MEDIA / ARTICLES

DEWI MAGAZINE

NO. 8. XI, AGUSTUS 2001

Richard Winkler Di Taman Firdaus

Keindahan alam pulau Bali, diwujudkan oleh pelukis Swedia ini dengan gayanya yang sensual dan kaya fantasi.

By Amir Sidharta

Penggambaran Bali sebagai Pulau Dewata menarik begitu banyak orang di antaranya adalah perupa yang ingin menemukan dan mengalami sendiri Taman Firdaus. Tiba di Bali di tahun 1920an dan 30an, perupa seperti Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan Willem Hofker memutuskan untuk menetap dan menggambarkan kesan mereka tentang pulau itu. Karya seni mereka memainkan peranan penting dalam memperkuat penggambaran Bali sebagai Taman Firdaus. Kekayaan sumber daya alam dan budaya pulau itu memberikan inspirasi yang begitu besar kepada para perupa tersebut sekaligus menyerap mereka ke dalam suatu semangat eksotisme citra pulau tersebut. Kini, para perupa yang baru tiba di Bali, mau tidak mau akan dipandang dalam konteks perupa pelopor yang telah berperan dalam perkembangan seni rupa di Bali.

Karya-karya perupa muda Swedia, Richard Winkler yang lahir di NorrkÛping Swedia tahun 1969, mungkin merupakan tambahan mutakhir pada sejarah panjang citra Bali sebagai Taman Firdaus yang menawarkan suatu sudut pandang baru dalam tradisi pelukisannya.

Mewarisi bakat artistik kakeknya yang juga pelukis, sejak sekolah menengah, Winkler telah mulai mengembangkan kemahiran artistiknya sebagai ilustrator untuk majalah sekolah. Setelah menekuni pelajaran seni visual di Sekolah Nyckellviks, ia melanjutkan pendidikan seni murninya di Sekolah Desain Beckmans di Stockholm. Di sana, ia diajarkan cara membentuk wujud secara kuat dan keras, dalam tradisi Bauhaus. Gambar figur merupakan mata kuliah yang paling disukainya. Ia bahkan merelakan mata kuliah periklanannya, untuk mengambil les privat menggambar model. Winkler sangat tertarik pada tubuh dan anatomi manusia. Dalam masa ini, ia juga melancong ke beberapa kota di Eropa untuk memperdalam seni rupa. Setelah lulus, Winkler yang menerima pesanan desain tidak lupa untuk terus berkarya sendiri, serta ikut dalam beberapa pameran bersama sejak 1990. Pada tahun 1992, ia mengadakan pameran tunggalnya yang pertama, dan di tahun 1995-96, ia telah mengadakan lima pameran tunggal.

Kekaguman Winkler pada kawasan tropis, dikombinasikan dengan suatu persahabatan yang pada saat itu baru berlangsung melalui surat menyurat dengan kawan penanya dari Indonesia, Regine, berkembang menjadi percintaan. Akhirnya Richard Winkler menikahi Regine dan mereka berdua memutuskan untuk menetap di Bali.

Pulau yang subur ini tampaknya menawarkan solusi pada bentuk artistik yang selama ini digeluti Winkler. Sejak sekitar tahun 1994-1995, Winkler melukiskan bentuk-bentuk abstrak seperti fragmen dari bagian dan anggota tubuh manusia dalam bahan kayu, yang tampak surealistis. Ia biasanya menampilkan bentuk-bentuk yang skulptural itu sebagai subjek utama karya-karyanya, tapi selanjutnya menempatkan bentuk-bentuk itu dalam suatu setting taman yang surealistis dengan berbagai macam tanaman. Walaupun wujud manusia tidak muncul, namun bentuk-bentuk yang digambarkannya seringkali tampak seperti tubuh manusia yang terlibat dalam suatu orgy sensual di lingkungan alam terbuka. Karya-karya ini menampilkan suatu metamorfosis transisional dari karya-karya Winkler yang skulptural ke gayanya yang sekarang.

“Seksualitas dan sensualitas memang ada dan tampil nyata dalam semua karyaku. Saya melihat bahwa seluruh dunia penuh dengan seksualitas. Ada keinginan yang kuat untuk tumbuh berkembang. Seluruh dunia, termasuk manusia, binatang, tumbuhan, mikrokosmos dan makrokosmos, diciptakan oleh keinginan kuat untuk menemukan kombinasi-kombinasi baru”, kata perupa muda itu.

Minatnya pada tanaman juga membuatnya mempelajari struktur, proses tumbuh, dan ritme tanaman dibandingkan alamnya. “Sekali memahami ritme ini, Anda dapat menciptakan tanaman mereka sendiri, mengikuti kaidah alami dari konstruksi alam,” kata Winkler lebih lanjut. Ia juga seringkali mencampur tanaman dari kehidupan sesungguhnya dengan tanaman dari fantasinya dalam lukisannya. Tanaman dalam lukisannya kebanyakan merupakan representasi langsung atau abstraksi yang terstilasi dari tanaman tropis yang sesungguhnya dan menjadi pola yang memperkaya dan memperkuat pemandangan dari karya-karyanya.

Winkler membangun pemandangannya, lapisan demi lapisan secara hati-hati dan sistematis. Pertama-tama ia membuat sketsa dari komposisinya secara keseluruhan, menggambarkan bentuk-bentuk elemen utamanya dengan pensil, kemudian baru melukis. Bekerja dari latar belakang terlebih dahulu, menuju latar depan secara teliti, membangun warna, motif, tekstur, cahaya dan bayangan setiap bentuknya. Biasanya dalam lukisannya lingkungan alam menjadi panggung bagi figur manusia untuk tampil.

Dalam beberapa karyanya, pengaruh perupa Henri Rousseau sudah tampak. Bentuk-bentuk yang terabstraksi muncul kontras pada vegetasi dalam alam di mana figur-figur itu ditempatkan. Vegetasi itu bukan hanya menyingkap figur-figur tersebut, tapi pada saat yang sama juga secara jahil menyembunyikan bentuk keseluruhannya. Nuansa Rousseau muncul secara halus dalam karya-karya Winkler.

Walaupun tidak bermaksud meniru gaya lukisan seniman legendaris asal Jerman yang lahir di Rusia, karya Winkler jelas juga terpengaruh karya-karya Spies. “Sebelum saya tiba di Bali, saya tidak tahu apapun mengenai Spies atau pun Covarrubias (yang juga dibandingkan dengan lukisan saya). Saya menyukai karya kedua perupa itu, dan memang ada beberapa persamaan. Namun, saya kira pengaruh mereka sebenarnya tidak sebesar pengaruh lukisan tradisional Bali atas karya saya. Secara umum, saya pikir semua lukisan tradisional menginspirasikan saya dengan semua detail dan cara mereka membubuhkan warna mirip dengan cara saya bekerja,” katanya.

Karya-karya Winkler yang mutakhir, tampil dalam pameran bertajuk In the Garden of Eden (Di Taman Firdaus) di ruang Nascissis, Hotel Mulia Senayan tanggal 8-15 Agustus ini. Banyak karyanya, seperti Red Mountains dan The Fisherman merupakan pelukisan kehidupan sehari-hari yang indah dan romantis. Kadang-kadang, seperti dalam Monkey Stealing Fruit, perupa itu menambahkan sentuhan humor dalam karya lukisnya.

Karya-karyanya yang lain menampilkan kesan-kesannya tentang aktivitas masa kini. The Spa dan After Bathing jelas merupakan gambaran yang berhubungan dengan perkembangan turisme di Bali yang ditampilkan dalam panggung teatrikal. Karena itu, mereka tidak muncul sebagai representasi dari realitas, tapi tafsir realitas yang tampil sebagai citra fantasi. Mungkin, karya-karya ini juga merupakan komentar atas kecongkakan kehidupan modern, terutama turisme, di pulau Bali.

Lukisan-lukisan Winkler bukan hanya penggambaran tentang alam, budaya, masyarakat, dan agama Bali. “Karya-karya itu tercampur dengan ekspresi saya sendiri tentang hubungan antara manusia dan alam, latar belakang agama saya sendiri, dan imaginasi saya tentang kedamaian dan keharmonisan antara manusia dan alam. Mungkin itu merupakan sesuatu yang sudah hilang di dunia Barat,” kata Winkler menilai. “Orang Bali begitu pandai mengimbangi baik dan buruk, hitam dan putih”, tambahnya. Karya seninya mencari titik setimbang antara hitam dan putih, baik dan buruk, keindahan dan kecongkakan.

Sebagai salah satu perupa asing mutakhir yang memvisualisasikan Bali, Richard Winkler melanjutkan tradisi seni lukis romantis tentang Pulau Dewata. Sementara ini, tampaknya ia mendapatkan apa yang dicarinya setelah pertemuannya dengan alam, budaya, dan seni Bali. Di sana, perupa muda itu berhasil mengembangkan gaya pribadinya, yang memiliki ciri khasnya sendiri.

Di masa mendatang pencarian perupa itu untuk menemukan kedamaian dan keselarasan antara manusia dan alam harus berlanjut. Di Pulau Dewata, orang dapat mudah puas dan menjadi terbuai. Namun, seorang perupa yang sejati akan senantiasa menghadapi tantangan untuk mengusahakan kesetimbangan kemanusiaan yang cukup ringkih, dan terus melakukan perjalanan untuk menjelajahi, mencari dan menjunjung tinggi kebenaran tentang Taman Firdaus. (Amir Sidharta)