MEDIA / ARTICLES

GRIYA ASRI

NO. 219.023, NOPEMBER 2001

Richard Winkler

Karyanya mencerminkan taman firdaus.

Pelukis kelahiran Noorkoping, Swedia tahun 1969 ini baru saja memamerkan beberapa karya lukisannya di Jakarta. Pria yang kini bermukim di bali ini tampaknya mendapatkan apa yang dicarinya setelah pertemuannya dengan alam, budaya dan seni Bali. Di sini, perupa muda itu berhasil mengembangkan bakat dan karakter pribadinya yang memiliki ciri khas sendiri.

Winkler yang mewarisi bakat artistik dari kakeknya yang juga pelukis ini menekuni pelajaran seni visual di sekolah Nyckelviks, lalu ia melanjutkan pendidikan seni murninya di sekolah desain Beckmans di Stockholm. Setelah lulus dan membuka studio desain, ia mulai ikut berpameran bersama di berbagai tempat sejak tahun 1990, sedangkan tahun 1992 ia mulai berpameran tunggal.

Pria yang berkacamata minus ini mengatakan bahwa di Bali ia menemukan berbagai macam tanaman, hal ini dapat memberikan inspirasi untuk mengembangkan lingkungan alam yang digambarkan dalam lukisannya. Perupa muda ini memang mengagumi tanaman sejak kecil dan minatnya pada tanaman membuatnya mempelajari struktur, proses tumbuhnya dan “ritme” tanaman. Dan itu diaplikasikannya pada karya-karya seninya.

Lukisan-lukisannya bukan hanya penggambaran tentang alam, budaya, masyarakat dan agama di Bali. Seperti yang dikatakannya bahwa karya-karyanya tercampur dengan ekspresinya, tentang hubungan antar manusia dengan alam, latar belakang agamanya, dan imajinasinya tentang kedamaian dan keharmonisan antar manusia dengan alam.“Orang Bali begitu pandai mengimbangi baik dan buruknya, hitam dan putihnya, dan untuk itulah karya-karya seni saya mencari titik seimbang antara hitam dan putih, baik dan buruk, keindahan dan kecongkakan,” tambahnya. (ds)