MEDIA / ARTICLES

KOMPAS

JUMAT, 27 FEBRUARY 2004

Richard Winkler, Sahabat Pena, dan Eksotika Bali

BUTUH keberanian luar biasa untuk memulai hidup baru di negeri orang, negeri asal calon istri yang selama 11 tahun lebih banyak dikenal lewat surat-menyurat. Terbukti keputusan Richard Winkler (35), pelukis asal Swedia, untuk hijrah ke Pulau Bali dan menikahi sahabat penanya, Regine Hajati Herman (33), pada tahun 1997 tidaklah keliru.

By Irwan Julianto

KARYA-karyanya terus mengalir dan tergolong laris manis alias diburu kolektor. Belum genap tujuh tahun bermukim di Bali, ia telah menggelar tiga kali pameran tunggal. Yang Pertama, Agustus 1999 bertajuk Tropical Dreams di Ganesha Gallery, Four Seasons Resort, Bali. Lalu, Agustus 2001 berjudul In the Garden of Eden dan yang terakhir pada 20-27 Februari ini bertema Moments of Silence di Jakarta.

“Saya kerasan tinggal di Bali, khususnya di daerah Ubud. Bagi saya Bali adalah Taman Eden. Warna-warna lukisan saya sekarang lebih cerah dan banyak menggunakan warna merah yang hampir tak saya pakai di Swedia,” tutur Richard Winkler.

Ungkapan Winkler mungkin klise karena para pelukis asing yang datang mendahuluinya seperti Covarubias, Walter Spies, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Auke Sonnega, Donald Friend, Hofker, Le Mayeur de Mepres, Theo Meier, hingga Arie Smit juga pernah omong yang sama tentang Bali.

Sepintas gaya lukisan Winkler memiliki elemen lukisan Spies, Sonnega, Gauguin, dan Botero. Horizon yang berlapis mirip gaya Spies. Warna-warna primer dan eksotika tropisnya lebih menyala dan lebih berani ketimbang Gauguin dan Sonnega. Sedangkan deformasi bentuk manusia yang jadi gemuk-gemuk sedikit menyerupai Botero walaupun figur manusia Winkler lebih banyak berunsur lengkungan.

Tema umumnya berasal dari kehidupan sehari-hari. Ia menyaring, menyusun ulang, menyutradarai, sambil menggayakannya sedemikian rupa di dalam kecenderungan dekoratif. Muncul di sana laku penyederhanaan yang mendukung unsur repetisi kesan lengkung.

Lihatlah, gunung-gunungnya umpamanya menjadi mirip lipatan-lipatan mengerucut yang berirama. Demikian pula batang-batang pohon entah apa yang tumbuh belit-membelit menciptakan irama, demikian juga dengan bulu ayam, kain sarung (yang justru ia hilangkan motif hiasnya). Contoh ini bisa berlanjut dengan umpamanya jajaran berirama buah pisang atau bulatan timbunan jeruk, yang saling bersambut bahkan dengan buah dada figur-figur perempuan telanjang.

Hasilnya adalah suasana yang seolah pernah kita kenal namun sesungguhnya bukan. Sesungguhnya ia lebih mewujudkan fantasinya sendiri dan pemandangan – yang seolah – Bali hampir hanya merupakan bahan dasar belaka. Lukisan-lukisan “Bali”-nya adalah romantisasi Bali.

Pada sisi pelaksanaan, yang menonjol adalah kerapiannya menggarap detail-detail ornamen flora dan kemampuannya memberi dimensi dan memainkan cahaya pada obyek-obyek lukisannya.

Winkler menapaki jalan yang sama seperti halnya pelukis Gusti Agung Mangu Putra, yang meniti kariernya mulai sebagai penggrafis dan pekerja di biro iklan. Dilahirkan 26 Juni 1969 di Norrköping, 150 kilometer selatan Stockholm, ia banyak belajar menggambar dari kakeknya yang pelukis. Setamat SMA, ia melanjutkan studi sekaligus di Sekolah Tinggi Seni Nyckelviken untuk belajar seni visual dan di Sekolah Tinggi Desain Beckmans, tempat ia menimba seni murni.

***

DARI tahun 1992 hingga semester pertama 1997 ia menjadi ilustrator untuk majalah, biro iklan, dan televisi. Selain menjadi ilustrator, ia mulai melukis yang didominasi figur-figur plastis penuh lengkungan, namun belum menampakkan wajah. Karya-karyanya ini telah ditampilkannya dalam empat pameran tunggal di Swedia, sekali di kota kelahirannya dan tiga kali di Stockholm. Selama periode itu pula ia mulai tertarik bertualang ke negeri tropis. Yang dipilihnya adalah Sri Lanka, yang dikunjunginya sampai tiga kali.

Kunjungannya yang ketiga terjadi pada bulan Desember 1996, yang baginya amat bersejarah karena pada saat itulah Winkler pertama kali berkencan untuk bertemu dengan sahabat penanya asal Jakarta, Regine.

“Kami datang pada saat yang kurang pas karena Sri Lanka sedang diguncang perang saudara. Richard waktu itu bersembunyi di pojokan airport menunggu saya,” tutur Regine.

Percintaan Richard-Regine berlanjut dengan kunjungan Regine ke Swedia pada Februari 1997 yang segera disusul dengan kepindahan Richard ke Indonesia, Juli 1997, dan menikah pada 18 Oktober 1997. Setelah sempat ragu memilih tinggal di Yogya atau Bali, akhirnya pasangan ini memutuskan untuk ke Bali.

“Waktu itu saya baru saja mendapat promosi di kantor saya di Jakarta, sebuah perusahaan perdagangan garmen Amerika. Sebenarnya berat juga untuk memulai hidup baru di Bali karena waktu itu saya belum tahu persis mengenai dunia seniman dan apakah lukisan-lukisan Richard dapat diterima oleh publik Indonesia,” kisah Regine, alumnus FR Universitas Trisakti yang kini bekerja di perusahaan jasa pengelolaan spa di Denpasar.

Winkler mengaku sempat gamang untuk memulai karier sebagai pelukis di Indonesia. “Hidup saya di Swedia sudah cukup enak. Teman-teman dan keluarga saya menganggap saya edan dan nekat ke negeri asing seperti Indonesia. Tapi ternyata keputusan saya dan Regine untuk memilih Bali tidak keliru,” kata Richard Winkler.

Pasangan ini baru tiga bulan lalu dikaruniai seorang putri yang mereka beri nama Dinda. Mungkin karena mengaku untuk melukis sebuah lukisan cukup lama, dari satu minggu hingga tiga bulan, maka belum satu pun lukisan Winkler dalam pameran terakhir bertema ibu dan anak. Hanya ada dua buah lukisan yang menampilkan figur ibu hamil.

“Sehabis pameran ini saya ingin berkeliling Indonesia, ke Gunung Bromo, Flores, Toraja, dan Papua,” kata Winkler.

Perjalanan kreatif Richard Winkler dan interaksinya dengan dunia seni rupa Bali maupun Indonesia masih panjang. Keberaniannya untuk keluar kandang membuat karya-karyanya menjadi lebih kaya ketimbang ilustrasi dan lukisan perupa Swedia seperti Carl Larsson atau Jan Lundqvist. Tidak mustahil suatu saat kelak ia akan menapak jejak pematung Carl Milles (1875-1955) yang karya-karyanya dikoleksi almarhum Presiden Soekarno. (IJ/EFIX)