MEDIA / ARTICLES

DEWI MAGAZINE

NO.3. XIII, MARET 2004

Memahami Puisi dalam Lukisan

Meski usia Winkler masih muda, lukisannya terlihat begitu matang, menyajikan ketenangan dalam kebekuan gerak.

By Dwi Sutarjantono

Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih. Suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat. Begitulah kira-kira syair penyanyi lagu balada Ebiet G. Ade yang begitu populer di tahun 80-an. Lugas, sederhana, penuh makna.

Begitu pulalah bila kita mengamati lukisan demi lukisan yang dibuat oleh Richard Winkler pada pamerannya yang diadakan pertengahan Februari ini di Hotel Mulia Jakarta. Empat puluh satu lukisan digelar oleh pelukis kelahiran Swedia 26 Juni 1969 ini dengan berbagai ukuran, yang terbesar 110 x 160 sentimeter. Tak ada banyak gerak di sana. Semuanya terasa diam, beku, menyatu dalam lukisan alam, binatang, dan figur manusia yang kalau melihat tempat tinggal Winkler di Kedewatan-Ubud, pastilah lokasinya di Bali. Pasti? Belum tentu juga karena alam seperti itu bisa ada di mana saja, dalam imajinasi Winkler. Alam yang eksotis, tenang, tenteram dan damai. Masihkah ini dimiliki Bali? Siapa tahu ini hanya satu bentuk khayalan Winkler yang berharap munculnya kedamaian dan ketenangan di bumi.

Pada pameran tunggalnya yang ke sembilan ini, Winkler yang pernah belajar di Nyckelviken School of Art dan Beckman School of Design di Swedia ini memilih judul Moment of Silence. “Ini adalah judul yang muncul saat saya sedang mempersiapkan pameran ini. Saya tidak menciptakan judul terlebih dahulu, tetapi saya bekerja dulu, dan berusaha untuk melihat apa yang telah saya kerjakan. Saya tidak pernah memulai dengan suatu tema ataupun ide yang jelas,” kata pelukis yang memutuskan pindah ke Bali tahun 1997 ini.

Untuk itu pula ia tidak membuat judul-judul rumit untuk karyanya. Semuanya terasa lugas dan sederhana seperti “Pregnant Woman with Pumpkin” (Wanita Hamil dengan Labu), “Woman with Long Hair” (Wanita dengan Rambut Panjang), “Working Women in the Fruitmarket” (Wanita Pekerja di Pasar Buah) dan sebagainya. “Saya tidak ingin judul mendominasi lukisan karena pada akhirnya apa yang kita lihat dan rasakan adalah lukisan itu sendiri. Apabila Anda ingin melihat seorang wanita hamil dengan labu, atau Anda ingin melihat sesuatu yang lebih daripada itu, maka itu diserahkan kembali kepada Anda dan kemampuan Anda untuk melakukannya. Saya selalu enggan untuk menjelaskan terlalu banyak lukisan-lukisan saya kepada para penikmat atau pengamat karena saya pikir mereka seharusnya berinteraksi sendiri dengan lukisan tersebut untuk dapat menemukan arti dan penjelasannya masing-masing. Ada begitu banyak arti dan perasaan yang terlibat, bergantung pada siapa yang mengamatinya,” kata Winkler yang pernah bekerja sebagai ilustrator majalah, iklan, dan televisi.

Dengan gaya yang dekoratif cenderung kubistik, lukisan-lukisan Winkler rasanya bisa dibagi dua sesuai tema. Pertama ia melukis buah, manusia (kebanyakan wanita), serta tetumbuhan dengan penekanan pada lukisan alam yang seperti surga; dan kedua, ia melukis figur manusia masih dengan beberapa variasi objek tambahan (selain buah dan daun, ada juga yang bernuansa interior) namun dengan penekanan pada figur itu sendiri.

Di bagian pertama Winkler banyak menunjukkan kemampuannya bermain perspektif dan memainkan jarak serta figur sebagai sebuah irama yang mengalun. Damainya alam Winkler bukan secara tradisional dilukis dengan warna kehijauan, melainkan warna-warna kuning, cokelat, dan hijau muncul silih berganti mendominasi lukisan-lukisannya menjadi pantulan cahaya yang menari. Di bagian kedua, riuhnya alam yang damai tak lagi menonjol. Di sini komposisi, gerak tubuh yang dipletat-pletot oleh Winkler, serta ekspresi manusianya lebih menawan. Kita seperti dipaksa berhenti sejenak untuk ikut merasakan apa yang tengah dirasa oleh figur lukisannya: Perasaan damai, perasaan tegang, atau mungkin gelak canda seperti wanita-wanita yang mandi bersama di tepi sungai dalam lukisannya. Pada beberapa lukisan, Winkler bahkan hanya memainkan warna kromatis untuk lebih memberi penekanan pada ‘gerak batin’ figurnya. Soal wanita yang banyak dilukisnya, Winkler hanya berkomentar, “Soalnya, wanita lebih menarik untuk dilukis.”

Jika mau dimirip-miripkan, lukisan-lukisan Winkler bisa jadi mirip gaya-gaya lukisan beberapa ‘pendahulunya’. Sosoknya membawa ingatan kita pada gaya Picasso; perspektif alam dan cahayanya terasa dekat dengan Walter Spies; atau bisa juga mengingatkan kita pada pelukis-pelukis Meksiko seperti Miguel Covarrubias. Tapi apakah ia hanya meniru mereka? Tentu saja tidak. Winkler adalah Winkler. Mungkin ia memang ‘mirip’ dengan banyak pelukis bule yang jatuh hati pada wanita Indonesia, lalu jatuh cinta dengan alam Bali. Tapi inilah gaya lukisannya. Lukisan yang melantunkan puisi tentang alam, tentang batin dan tentang ketenangan. Puisi yang memang kita perlukan saat ini ketika kebenaran sukar dicari, saling curiga menjadi fakta, dan emosi diangkat jadi mahkota. (Dwi Sutarjantono)