MEDIA / ARTICLES

PIKIRAN RAKYAT

19 JANUARY 2008

Richard Winkler, Tubuh, dan Tumbuhan

Apakah sesungguhnya hubungan antara tubuh manusia dan tumbuhan? keduanya sama-sama tumbuh sebagai sebuah ritme yang patuh pada kaidah – kaidah alam sebagai mana alam adalah ritme itu sendiri.

RITME
Alam inilah yang sesungguhnya ada dalam tubuh manusia, termasuk ritme tumbuh-tumbuhan. Dan ketika tumbuhan itu menjadi bagian dari aktivitas hidup manusia yang paling pokok,terutama untuk memperoleh makanan seperti tampak pada budaya masyarakat agraris,tubuh manusia terasa berada dalam satu nafas dengan tumbuhan. Buah-buahan, tanaman dan sayuran ternyata adalah representasi dari tubuh manusia juga. Dalam kalimat lain, dunia tumbuhan adalah dunia yang tersembunyi dalam tubuh manusia.

Inilah gagasan kesadaran yang selalu di dedahkan oleh Richard Winkler dalam ekplorasi visualnya diatas kanvas. Dengan warna-warna cerah, sebagaimana buah-buahan, kanvas Winkler selalu menampilkan kesatuan yang menarik antara tubuh manusia dalam dunia vegetasi. Tubuh yang bulat dan gemuk yang setiap lekuknya mengingatkan kita pada bentuk buah-buahan. Ia terkadang tampak lucu dan naif, seperti tubuh yang terbuat dari balon. Namun seluruh kelucuan dan kenaifan bentuk tubuh itu mempresentasikan kesadaran ihwal kesuburan tubuh dan kesuburan alam. Tubuh yang hidup dalam dunia vegetasi semacam itu bahkan tak hanya terasa menjadi bagian dari alam, tetapi tubuh adalah alam itu sendiri.

Inilah yang agaknya membedakan figur tubuh bulat gemuk Richard Winkler dengan apa yang banyak di temukan pada karya pelukis lain. Menatap tubuh gemuk-gemuk Winkler niscaya banyak orang teringat pada karya Picasco atau pelukis Argentina, Fernando Botero. Namun, jika dalam karya keduanya tubuh-tubuh gemuk itu lebih menyaran kepada realitas sosial-politik untuk mepresentasikan kerakusan manusia sehingga tubuh gemuk itu tampak penuh dengan lemak yang menjijikan, dalam karya Winkler, kegemukan tubuh manusia lebih hendak mengungkapkan sebuah kesuburan.

Tubuh itu hadir dalam bulatan-bulatan yang tak berlapis lemak, tetapi mencerminkan gagasan ihwal alam. Bersama alam, tubuh itu di hadirkan dalam berbagai peristiwa seperti mandi di sungai. Dalam pandangan kritikus dan kurator Agus Darmawan T., tubuh – tubuh bulat dalam figur Winkler sesungguhnya memiliki tingkat humor dan kehormatanya sendiri.

Sebagai pelukis , Richard Winkler merupakan generasi pelukis Eropa terkini satelah generasi Arie Smith yang menetap dan berkarya di Bali. Jauh kebelakang kehadiran para pelukis ekspatriat Eropa di Bali bisa ditelusuri sejak periode tahun 1920 dan 1930-an, sejak generasi Walter Spies, Rudolf Bonnet dan Willem Hofker. Tak bisa disangkal , para pelukis ekspatriat Eropa ini telah meninggalkan jejak yang panjang dalam memberi sebuah sudut penanda dalam perkembangan seni lukis modern di Indonesia.

Mewarisi bakat artistik kakekeknya yang juga pelukis, sejak sekolah menengah, Winkler telah mulai mengembangkan kemahiran artistiknya sebagai ilustrator untuk mjalah sekolah. Setelah menekuni pelajaran seni visual di Sekolah Nyekellviks, ia melanjutkan pendidikan seni murninya di Sekolah desain Beckmans di Stockholm. Di sana, ia di ajarkan cara membentuk wujud secara kuat dan keras, dalam tradisi Bauhaus.

Gambar figur merupakan mata kuliah yang paling di sukainya. Ia bahkan merelakan mata kuliah periklanannya untuk mengambil les privat menggambar model. Winkler sangat tertarik pada tubuh dan anatomi manusia. Dalam masa ini, ia juga melancong ke beberapa kota di Eropa untuk memperdalam seni rupa. Setelah lulus Winkler yang menerima pesanan desain tidak lupa untuk terus berkarya sendiri serta ikut dalam beberapa pameran bersama sejak 1990.

Pada tahun 1992 ia mengadakan pameran tunggalnya yang pertama. Tahun 1995 -1996, ia telah mengadakan lima pameran tunggal. Rabu (16 / 1), pelukis berdarah Jerman kelahiran Noorkoping Swedia tahun 1969 ini muncul di Bandung bersama anak istrinya.

“YA, saya memang selalu pada bentuk tubuh manusia dan tumbuhan. Bahkan, sejak kecil saya tertarik pada dunia Botani. Itu sejak saya di Swedia,” ujar pria berkaca mata minus ini.

Sebelum menetapkan pilihannya tinggal dan berkarya di Bali, Winkler sempat menetap dan berkarya di Sri Lanka. Di situ ia meneruskan ekplorasi dalam unsur kebentukan yang berkonsentrasi pada upaya menemukan bentuk distorsi tubuh manusia dan hubungannya dengan tumbuhan tropis. Ini berbeda dengan eksplorasi yang di lakukan nya selama di Swedia, saat figur tubuh manusia yang bulat hadir dalam karakteristik lukisan abstrak.

Selama di Sri Lanka, ia menemukan korelasi visual tubuh manusia dan alam tropis, itu juga berangkat dari cara pandangnya dalam melihat bagaimana tubuh manusia dalam budaya Timur melakukan interaksi dengan alam. Interaksi yang tak di temukannya dalam budaya Barat di Swedia, ketika tubuh manusia dan tumbuhan hidup dan bergerak dalam jarak yang tegas. Di Bali, Winkler juga menemukan kenyataan seperti yang di lihatnya di Sri Lanka. Tubuh manusia hidup bersama tumbuhan dalam ritme yang melukis dan melukiskan.

“Dalam budaya masyarakat Timur, hubungan bentuk manusia dan alam lebih menyentuh karena berhubungan dengan pekerjaan, seperti saya temukan di Bali dan Sri Lanka. Mereka dekat dan bersatu dengan alam. Sementara di Barat lebih terjarak. Mereka makan tanpa mau tahu dari mana makanan itu berasal. Ini tidak terjadi di Bali karena makanan itu dekat dengan mereka seperti nasi, sayuran, dan buah – buahan,” tuturnya.

Ia memang tak membantah bahwa di Indonesia kenyataan semacam itu mulai tak ada bedanya dengan masyarakat di Eropa. Gaya hidup yang mulai beranjak meninggalkan hubungannya dengan alam. Namun, pelukis yang kerap berkeliling dengan sepeda motor memasuki banyak tempat di Bali ini juga menemukan betapa manusia dan tumbuhan tetaplah merupakan kesatuan. Aktivitas keseharian mereka, termasuk makanan, tetaplah bergantung pada alam. Dan inlah yang kerap menjadi inspirasinya. Inilah yang banyak hadir dalam pameran tunggalnya terakhir yang bertajuk “Garden of Eden” di Hotel Mulia Jakarta, 2004 lalu.

Pada bagian lain ia tak menyangkal betapa hubungan tubuh manusia dengan tumbuhan tropis tak hanya cukup di pahami sebagai bentuk kerja dan aktivitas keseharian, namun juga tak bisa di pisahkan dari kepercayaan mereka pada religi, seperti yang di temukannya di Bali.

“Selelah saya ke Indonesia, saya melihat banyak agama. Di Swedia tak banyak lagi agama, bahkan mereka sudah lupa. Buat saya sendiri agama lebih alamiah. Saya Kristen, tetapi kalau saya masuk Gereja saya tidak merasakannya. Beda dengan ketika saya berada di tengah alam. Naik gunung, hujan keras atau angin itu menimbulkan perasaan religi buat saya. Di tengah alam itulah saya merasakan perasaan religi. akan tetapi, di sini orang lebih sibuk dengan ritus. Buat saya, itu personal. Tidak terlalu penting, perasaan religiositas lebih tumbuh di tengah alam, “paparnya.