MEDIA / ARTICLES

TODDLER MAGAZINE

VOL. 5 2006

Nuansa Warna Kontemporer

“There’s no end to it. Kita akan terus belajar dan mencari kepuasan dari melukis.”

Painting is passion merupakan filosofi dasar yang dianut Richard Winkler, pelukis yang sudah menggelar solo exhibition sejak tahun 1992 baik di Sweden mapun Indonesia dan juga mengikuti berbagai group exhibition di Sweden, Denmark, Singapura dan Indonesia sejak 1990. “Melukis memberikan saya kepuasan dan kesenangan batin, bukan hanya sebagai profesi,” demikian tutur pria kelahiran Norrkoping, Sedwn ini dengan bahasa Indonesia yang cukup lancer. “Tidak penting bagi saya apa aliran lukisan saya, sekarang ini semuanya adalah sejenis kontemporer”.

Menurur Richard, secara alamiah semua anak memilili ketertarikan untuk menggambar dan melukis. Sebagai orang tua kita harus mendukung karena sangat baik dan berguna untuk personal development mereka.

Sejak kecil si pengermar kegiatan berkebun ini sudah suka melukis, Almarhum kakeknya seorang pelukis. Beliaulah yang pertama-tama membuka hati dan memberikan pelajaran lukis. “semasa sekolah saya demikian gemar menggambar dan melukis. Sampai-sampai selesai SMA memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah seni, Nyckelviken School of Arts di Stockholm. Disana saya mendalami visual arts dan melanjutkan ke Beckmans School of Design dimana saya belajar fine art dan design grafik.”

Richard mendapat dukungan penuh keluarga. Ibunya tidak pernah mendikte nak-anak harus jadi apa. Memberikan kebebasan besar untuk mengembangkan diri sesuai minat. Sang Bunda lah yang menyediakan semua perlengkapan dan peralatan untuk melukis.

Saat ini, sebagai ayah dari Dinda Violina Winkler (3th) dan Nadia Felicia Winkler (4bulan), tentulah Richard ingin searif sang Bunda. “Saya tidak pernah mentukan anak harus jadi apa, yang penting memberikan dukungan untuk apa pun yang ingin mereka lakukan dan apapun cita-citanya”.

Namun buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dinda memiliki ketertarikan pada melukis yang tercermin dari atensi terhadap kegiatan si ayah dan keinginan yang tinggi untuk mencoba. Acap masuk ke studio kerja sang ayah, baik saat masih di Ubud maupun setelah pindah ke Sanur tahun ini. “Begitu melihat lukisan di studio saya dia akan berkomentar: “ini Mama”, atau “yang ini bagus” dan “yang ini kurang bagus” dan yang mana yang disukai dan tidak dan sebagainya. Saya juga suka bertanya kepada dia apa yang dia lihat didalam lukisan saya. Dia juga suka memegang dan memeriksa alat alat kerja saya.” Akhirnya Richard membelikan putrinya kanvas yang langsung dipergunakan untuk melukis dengan cat acrylic.

Disamping melukis, pria yang sudah menetap di Bali sejak pertengahan tahun 1997 ini sangat menikmati saat-saat beraktifitas dengan anak, misalnya naik vespa keliling kota, bermain dan menggambar di pasir, merayakan ulang tahun anak-anak teman-teman, ataupun melihat hal-hal yang baru.

Melihat anak-anaknya bertumbuh dari bayi mungil menjadi satu individu dirinya sendiri dengan pikiran dan emosi masing-masing yang tidak ada kaitan dengan profesi orang tuanya, dengan apa yang dilakukan kaum dewasa, merupakan pengalaman seru dan berkesan karena disinilah tercermin adanya unconditional love dan curahan perasaan orang tua kepada mereka.

Kecintaannya pada Bali dan keluarga tercermin pada karya-karyanya. “Ya, karena keluarga selalu ada dalam pikiran saya dan juga merupakan inspirasi. Disengaja ataupun tidak mereka akan muncul dari dalam benak saat saya melukis.” Itulah Ricahrd