 |
|
 |
 |
 |
 |
 |
 |
 |
|
 |
 |
 |
 |
| Richard Winkler |
 |
Karyanya mencerminkan taman firdaus.
Pelukis kelahiran Noorkoping, Swedia tahun
1969 ini baru saja memamerkan beberapa karya
lukisannya di Jakarta. Pria yang kini bermukim
di bali ini tampaknya mendapatkan apa yang
dicarinya setelah pertemuannya dengan alam,
budaya dan seni Bali. Di sini, perupa muda
itu berhasil mengembangkan bakat dan karakter
pribadinya yang memiliki ciri khas sendiri.
Winkler yang mewarisi bakat artistik dari
kakeknya yang juga pelukis ini menekuni pelajaran
seni visual di sekolah Nyckelviks, lalu ia
melanjutkan pendidikan seni murninya di sekolah
desain Beckmans di Stockholm. Setelah lulus
dan membuka studio desain, ia mulai ikut berpameran
bersama di berbagai tempat sejak tahun 1990,
sedangkan tahun 1992 ia mulai berpameran tunggal.
Pria yang berkacamata minus ini mengatakan
bahwa di Bali ia menemukan berbagai macam
tanaman, hal ini dapat memberikan inspirasi
untuk mengembangkan lingkungan alam yang digambarkan
dalam lukisannya. Perupa muda ini memang mengagumi
tanaman sejak kecil dan minatnya pada tanaman
membuatnya mempelajari struktur, proses tumbuhnya
dan “ritme” tanaman. Dan itu diaplikasikannya
pada karya-karya seninya.
Lukisan-lukisannya bukan hanya penggambaran
tentang alam, budaya, masyarakat dan agama
di Bali. Seperti yang dikatakannya bahwa karya-karyanya
tercampur dengan ekspresinya, tentang hubungan
antar manusia dengan alam, latar belakang
agamanya, dan imajinasinya tentang kedamaian
dan keharmonisan antar manusia dengan alam.“Orang
Bali begitu pandai mengimbangi baik dan buruknya,
hitam dan putihnya, dan untuk itulah karya-karya
seni saya mencari titik seimbang antara hitam
dan putih, baik dan buruk, keindahan dan kecongkakan,”
tambahnya. (ds) |
|
|
 |
|
 |
|
|