 | |  |  |  |  |  |  |  | |  |
 |
 |
 |
| Richard Winkler, Tubuh, dan
Tumbuhan |
| |
Apakah sesungguhnya hubungan
antara tubuh manusia dan tumbuhan? keduanya
sama-sama tumbuh sebagai sebuah ritme yang
patuh pada kaidah – kaidah alam sebagai
mana alam adalah ritme itu sendiri.
RITME
Alam inilah yang sesungguhnya ada dalam tubuh
manusia, termasuk ritme tumbuh-tumbuhan. Dan
ketika tumbuhan itu menjadi bagian dari aktivitas
hidup manusia yang paling pokok,terutama untuk
memperoleh makanan seperti tampak pada budaya
masyarakat agraris,tubuh manusia terasa berada
dalam satu nafas dengan tumbuhan. Buah-buahan,
tanaman dan sayuran ternyata adalah representasi
dari tubuh manusia juga. Dalam kalimat lain,
dunia tumbuhan adalah dunia yang tersembunyi
dalam tubuh manusia.
Inilah gagasan kesadaran yang selalu di dedahkan
oleh Richard Winkler dalam ekplorasi visualnya
diatas kanvas. Dengan warna-warna cerah, sebagaimana
buah-buahan, kanvas Winkler selalu menampilkan
kesatuan yang menarik antara tubuh manusia
dalam dunia vegetasi. Tubuh yang bulat dan
gemuk yang setiap lekuknya mengingatkan kita
pada bentuk buah-buahan. Ia terkadang tampak
lucu dan naif, seperti tubuh yang terbuat
dari balon. Namun seluruh kelucuan dan kenaifan
bentuk tubuh itu mempresentasikan kesadaran
ihwal kesuburan tubuh dan kesuburan alam.
Tubuh yang hidup dalam dunia vegetasi semacam
itu bahkan tak hanya terasa menjadi bagian
dari alam, tetapi tubuh adalah alam itu sendiri.
Inilah yang agaknya membedakan figur tubuh
bulat gemuk Richard Winkler dengan apa yang
banyak di temukan pada karya pelukis lain.
Menatap tubuh gemuk-gemuk Winkler niscaya
banyak orang teringat pada karya Picasco atau
pelukis Argentina, Fernando Botero. Namun,
jika dalam karya keduanya tubuh-tubuh gemuk
itu lebih menyaran kepada realitas sosial-politik
untuk mepresentasikan kerakusan manusia sehingga
tubuh gemuk itu tampak penuh dengan lemak
yang menjijikan, dalam karya Winkler, kegemukan
tubuh manusia lebih hendak mengungkapkan sebuah
kesuburan.
Tubuh itu hadir dalam bulatan-bulatan yang
tak berlapis lemak, tetapi mencerminkan gagasan
ihwal alam. Bersama alam, tubuh itu di hadirkan
dalam berbagai peristiwa seperti mandi di
sungai. Dalam pandangan kritikus dan kurator
Agus Darmawan T., tubuh – tubuh bulat
dalam figur Winkler sesungguhnya memiliki
tingkat humor dan kehormatanya sendiri.
Sebagai pelukis , Richard Winkler merupakan
generasi pelukis Eropa terkini satelah generasi
Arie Smith yang menetap dan berkarya di Bali.
Jauh kebelakang kehadiran para pelukis ekspatriat
Eropa di Bali bisa ditelusuri sejak periode
tahun 1920 dan 1930-an, sejak generasi Walter
Spies, Rudolf Bonnet dan Willem Hofker. Tak
bisa disangkal , para pelukis ekspatriat Eropa
ini telah meninggalkan jejak yang panjang
dalam memberi sebuah sudut penanda dalam perkembangan
seni lukis modern di Indonesia.
Mewarisi bakat artistik kakekeknya yang juga
pelukis, sejak sekolah menengah, Winkler telah
mulai mengembangkan kemahiran artistiknya
sebagai ilustrator untuk mjalah sekolah. Setelah
menekuni pelajaran seni visual di Sekolah
Nyekellviks, ia melanjutkan pendidikan seni
murninya di Sekolah desain Beckmans di Stockholm.
Di sana, ia di ajarkan cara membentuk wujud
secara kuat dan keras, dalam tradisi Bauhaus.
Gambar figur merupakan mata kuliah yang paling
di sukainya. Ia bahkan merelakan mata kuliah
periklanannya untuk mengambil les privat menggambar
model. Winkler sangat tertarik pada tubuh
dan anatomi manusia. Dalam masa ini, ia juga
melancong ke beberapa kota di Eropa untuk
memperdalam seni rupa. Setelah lulus Winkler
yang menerima pesanan desain tidak lupa untuk
terus berkarya sendiri serta ikut dalam beberapa
pameran bersama sejak 1990.
Pada tahun 1992 ia mengadakan pameran tunggalnya
yang pertama. Tahun 1995 -1996, ia telah mengadakan
lima pameran tunggal. Rabu (16 / 1), pelukis
berdarah Jerman kelahiran Noorkoping Swedia
tahun 1969 ini muncul di Bandung bersama anak
istrinya.
“YA, saya memang selalu pada bentuk
tubuh manusia dan tumbuhan. Bahkan, sejak
kecil saya tertarik pada dunia Botani. Itu
sejak saya di Swedia,” ujar pria berkaca
mata minus ini.
Sebelum menetapkan pilihannya tinggal dan
berkarya di Bali, Winkler sempat menetap dan
berkarya di Sri Lanka. Di situ ia meneruskan
ekplorasi dalam unsur kebentukan yang berkonsentrasi
pada upaya menemukan bentuk distorsi tubuh
manusia dan hubungannya dengan tumbuhan tropis.
Ini berbeda dengan eksplorasi yang di lakukan
nya selama di Swedia, saat figur tubuh manusia
yang bulat hadir dalam karakteristik lukisan
abstrak.
Selama di Sri Lanka, ia menemukan korelasi
visual tubuh manusia dan alam tropis, itu
juga berangkat dari cara pandangnya dalam
melihat bagaimana tubuh manusia dalam budaya
Timur melakukan interaksi dengan alam. Interaksi
yang tak di temukannya dalam budaya Barat
di Swedia, ketika tubuh manusia dan tumbuhan
hidup dan bergerak dalam jarak yang tegas.
Di Bali, Winkler juga menemukan kenyataan
seperti yang di lihatnya di Sri Lanka. Tubuh
manusia hidup bersama tumbuhan dalam ritme
yang melukis dan melukiskan.
“Dalam budaya masyarakat Timur, hubungan
bentuk manusia dan alam lebih menyentuh karena
berhubungan dengan pekerjaan, seperti saya
temukan di Bali dan Sri Lanka. Mereka dekat
dan bersatu dengan alam. Sementara di Barat
lebih terjarak. Mereka makan tanpa mau tahu
dari mana makanan itu berasal. Ini tidak terjadi
di Bali karena makanan itu dekat dengan mereka
seperti nasi, sayuran, dan buah – buahan,”
tuturnya.
Ia memang tak membantah bahwa di Indonesia
kenyataan semacam itu mulai tak ada bedanya
dengan masyarakat di Eropa. Gaya hidup yang
mulai beranjak meninggalkan hubungannya dengan
alam. Namun, pelukis yang kerap berkeliling
dengan sepeda motor memasuki banyak tempat
di Bali ini juga menemukan betapa manusia
dan tumbuhan tetaplah merupakan kesatuan.
Aktivitas keseharian mereka, termasuk makanan,
tetaplah bergantung pada alam. Dan inlah yang
kerap menjadi inspirasinya. Inilah yang banyak
hadir dalam pameran tunggalnya terakhir yang
bertajuk “Garden of Eden” di Hotel
Mulia Jakarta, 2004 lalu.
Pada bagian lain ia tak menyangkal betapa
hubungan tubuh manusia dengan tumbuhan tropis
tak hanya cukup di pahami sebagai bentuk kerja
dan aktivitas keseharian, namun juga tak bisa
di pisahkan dari kepercayaan mereka pada religi,
seperti yang di temukannya di Bali.
“Selelah saya ke Indonesia, saya melihat
banyak agama. Di Swedia tak banyak lagi agama,
bahkan mereka sudah lupa. Buat saya sendiri
agama lebih alamiah. Saya Kristen, tetapi
kalau saya masuk Gereja saya tidak merasakannya.
Beda dengan ketika saya berada di tengah alam.
Naik gunung, hujan keras atau angin itu menimbulkan
perasaan religi buat saya. Di tengah alam
itulah saya merasakan perasaan religi. akan
tetapi, di sini orang lebih sibuk dengan ritus.
Buat saya, itu personal. Tidak terlalu penting,
perasaan religiositas lebih tumbuh di tengah
alam, “paparnya. |
|
|  |
|  |
|
|