 | |  |  |  |  |  |  |  | |  |
 |
 |
 |
| Nuansa Warna Kontemporer |
| “There’s no end
to it. Kita akan terus belajar dan mencari
kepuasan dari melukis.” |
| |
Painting is passion merupakan
filosofi dasar yang dianut Richard Winkler,
pelukis yang sudah menggelar solo exhibition
sejak tahun 1992 baik di Sweden mapun Indonesia
dan juga mengikuti berbagai group exhibition
di Sweden, Denmark, Singapura dan Indonesia
sejak 1990. “Melukis memberikan saya
kepuasan dan kesenangan batin, bukan hanya
sebagai profesi,” demikian tutur pria
kelahiran Norrkoping, Sedwn ini dengan bahasa
Indonesia yang cukup lancer. “Tidak
penting bagi saya apa aliran lukisan saya,
sekarang ini semuanya adalah sejenis kontemporer”.
Menurur Richard, secara alamiah semua anak
memilili ketertarikan untuk menggambar dan
melukis. Sebagai orang tua kita harus mendukung
karena sangat baik dan berguna untuk personal
development mereka.
Sejak kecil si pengermar kegiatan berkebun
ini sudah suka melukis, Almarhum kakeknya
seorang pelukis. Beliaulah yang pertama-tama
membuka hati dan memberikan pelajaran lukis.
“semasa sekolah saya demikian gemar
menggambar dan melukis. Sampai-sampai selesai
SMA memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah
seni, Nyckelviken School of Arts di Stockholm.
Disana saya mendalami visual arts dan melanjutkan
ke Beckmans School of Design dimana saya belajar
fine art dan design grafik.”
Richard mendapat dukungan penuh keluarga.
Ibunya tidak pernah mendikte nak-anak harus
jadi apa. Memberikan kebebasan besar untuk
mengembangkan diri sesuai minat. Sang Bunda
lah yang menyediakan semua perlengkapan dan
peralatan untuk melukis.
Saat ini, sebagai ayah dari Dinda Violina
Winkler (3th) dan Nadia Felicia Winkler (4bulan),
tentulah Richard ingin searif sang Bunda.
“Saya tidak pernah mentukan anak harus
jadi apa, yang penting memberikan dukungan
untuk apa pun yang ingin mereka lakukan dan
apapun cita-citanya”.
Namun buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Dinda
memiliki ketertarikan pada melukis yang tercermin
dari atensi terhadap kegiatan si ayah dan
keinginan yang tinggi untuk mencoba. Acap
masuk ke studio kerja sang ayah, baik saat
masih di Ubud maupun setelah pindah ke Sanur
tahun ini. “Begitu melihat lukisan di
studio saya dia akan berkomentar: “ini
Mama”, atau “yang ini bagus”
dan “yang ini kurang bagus” dan
yang mana yang disukai dan tidak dan sebagainya.
Saya juga suka bertanya kepada dia apa yang
dia lihat didalam lukisan saya. Dia juga suka
memegang dan memeriksa alat alat kerja saya.”
Akhirnya Richard membelikan putrinya kanvas
yang langsung dipergunakan untuk melukis dengan
cat acrylic.
Disamping melukis, pria yang sudah menetap
di Bali sejak pertengahan tahun 1997 ini sangat
menikmati saat-saat beraktifitas dengan anak,
misalnya naik vespa keliling kota, bermain
dan menggambar di pasir, merayakan ulang tahun
anak-anak teman-teman, ataupun melihat hal-hal
yang baru.
Melihat anak-anaknya bertumbuh dari bayi mungil
menjadi satu individu dirinya sendiri dengan
pikiran dan emosi masing-masing yang tidak
ada kaitan dengan profesi orang tuanya, dengan
apa yang dilakukan kaum dewasa, merupakan
pengalaman seru dan berkesan karena disinilah
tercermin adanya unconditional love dan curahan
perasaan orang tua kepada mereka.
Kecintaannya pada Bali dan keluarga tercermin
pada karya-karyanya. “Ya, karena keluarga
selalu ada dalam pikiran saya dan juga merupakan
inspirasi. Disengaja ataupun tidak mereka
akan muncul dari dalam benak saat saya melukis.”
Itulah Ricahrd |
|
|  |
|  |
|
|